Sabtu, 02 Maret 2013

Semua tentangmu IBU



 IBU,  MADRASAH CINTA-KU !!

Ada sebutir kristal bening menetes luruh disudut mata ini ketika note ini tertulis. Ada satu keajaiban yg tak sanggup saya ungkap disini. Sebuah gelegak hati yg senantiasa bergumam hanya karena satu nama : IBU.
Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan.
Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan; “positif”.
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya.
Seringkali ia bertanya; menangiskah ia?? Tertawakah ia?? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana?? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia.
Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.
Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak.
Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap “Ma…” segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar telepon.
Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.
“Demi anak”, “Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue.
Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.
Disaat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak, nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya.
Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia.
Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari.
Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau.
Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun mendongeng.
Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta.
Serta merta kalimat, “sudah makan belum??” tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.
Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis?? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata??
Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin.
Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, “Masihkah kau anakku??”
Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir.
Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, “bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian”. Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. “Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil,” ujarnya.
Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu??
Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibu lah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang dicinta.
Maka tidak heranlah jika Rasulullah bersabda:" Surga berada di telapak kaki ibumu"..

hal-hal tentang ayah


Apa yang kita tahu tentang seorang ayah??

Mungkin ibu lebih kerap menelepon untuk menanyakan keadaan kita setiap hari..
Tapi tahukah kita, sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk menelepon kita??
Semasa kecil, ibu lah yang lebih sering mendukung kita..
Tapi tahukah kita bahwa sebalik ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah selalu menanyakan apa yang kita lakukan seharian??
Saat kita sakit demam, ayah sering membentak "sudah diberitahu jangan minum yang manis!!". Tapi tahukah kamu bahwa ayah sangat risau??

Ketika kita remaja, kita meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata "tidak boleh!!".. Sadarkah kita bahwa ayah hanya ingin menjaga kita?? Karena bagi ayah, kita adalah sesuatu yang sangat berharga..

Saat kita sudah di percayai, ayah pun melonggarkan peraturannya. Saaa kita telah melanggar kepercayaannya, Maka ayah lah yang setia menunggu kita di ruang tamu dengan rasa sangat risau..

Setelah kita dewasa, ayah telah mengantar kita ke sekolah untuk belajar..
Di saat kita memerlukan ini-itu, untuk keperluan kuliah, ayah hanya mengerutkan dahi tanpa menolak, beliau memenuhinya..
Saat kamu berjaya, Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukmu.. Ayah akan tersenyum dengan bangga..

Sampai ketika jodoh kita telah datang dan meminta izin untuk mengambil kita dari ayah,  Ayah sangat berhati-hati mengizinkan nya..
Dan akhirnya Saat ayah melihat kita duduk di atas pelaminan bersama pasangan, ayah pun tersenyum bahagia...

Apa kita tahu, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis??

Ayah menangis karena ayah sangat bahagia..
Dan dia pun berdoa "Ya ALLAH, tugasku telah selesai dengan baik.. Bahagiakan lah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya"..

Setelah itu ayah hanya akan menunggu kedatangan kita bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk, Dengan rambut yang memutih dan badan yang tak lagi kuat untuk menjaga kita..





lagu simfoni hitam


simfoni  hitam

Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan cita bersama
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu

Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu

Reff:
T'lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T'lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
Bila saja kau di sisiku'Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu

Back to Reff
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu....

Back to Reff

T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu....



drama bawang merah bawang putih


BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH

Jaman dahulu kala, di sebuah desa yang bernama desa “BUMBU” tinggalah sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera. Keluarga tersebut adalah Ayah Bawang, Ibu bawang daun, dan Bawang putih.

Ayah Bawang    : Bu , nak , Ayah pamit kerja ya. Hati – hati di rumah.
Ibu bawang daun : iya Yah hati – hati di jalan. Nanti bawang putih mengantarkan makan siang untukmu ke pasar.
Bawang putih : semoga jualan ayah laku ya.
Ayah bawang pun pergi ke pasar untuk berjualan di toko besarnya.
Bawang putih : bu, bawang putih pergi ke sungai dulu ya bu. Asalamualaikum.
Ibu bawang daun : ya hati – hati ya nak.

Bawang putih pun pergi ke sungai untuk menyuci. Di balik pohon bawang merah dan ibunya pun tersenyum jahat.

Ibu bawang merah : Ini saatnya kita menjalankan rencana.
Bawang merah : ya benar bu ! ayo cepat mumpung ibu bawang daun lagi sendiri tuh!
Ibu bawang merah : selamat pagi bu. Sendirian aja nih?
Ibu bawang daun : eh ibu~ iya nih. Kenapa bu?
Bawang merah : ini bi, kami bawakan nasi kuning yang sangat enak!
Ibu bawang merah : iya bu. Habiskan ya, saya khusus membuatkannya untuk ibu.
Ibu bawang daun : wah~ sepertinya enak sekali. Terima kasih ya. Saya pasti menghabiskannya. Ayo makan bersama~
Bawang merah : ah bi, kami sudah makan. Lebih baik bibi saja.
Ibu bawang merah : kita pulang dulu ya. Asalamualaikum.
Ibu bawang daun : walaikumsalam. Terima kasih ya.
Ibu bawang daun pun memakan nasing kuning itu.
Ibu bawang merah : HAHAHAHAHA rasain kamu ! sebentar lagi suamimu akan menikahkanku ! dan seluruh hartanya akan menjadi milikku!
Bawang merah : rasain! Dan ini kesempatanku untuk menyikasa bawang putih!
Pada saat itu juga Ibu bawang daun tewas di tempat.
Bawang putih : Ibu !!!! IBU !!! IBUUUUUUUUUUUUUUU!!! Bangun!!!
Ayah bawang : istriku !!! istriku !!!  bangguuun !!!

Setelah ibu bawang daun meninggal Ayah bawang menikahi ibu bawang merah.

Ayah bawang : saya terima nikahnya Ibu bawang merah dengan mas kawin seperangkat bumbu dapur di bayar tunai.
Penghulu : bagaimana saksi ? sah??
Saksi : saaaaaah~ alhamdulilah.
Beberapa hari kemudian..
Ibu bawang Merah : hey kau bawang merah, sapu sapu dong yang rajin kayak bawang putih. Sapu sampai bersih.
Bawang merah : ya!
Bawang putih : biar aku bantu ya..
Bawang merah : tidak usah!
Ibu bawang merah : sudah sudah, bawang putih sini nak. Kamu duduk bersama ibu dan ayah.
Ayah bawang : ah~ aku harus pergi ke pasar.
Ibu bawang merah : ah~ minum teh dulu.
Bawang merah : udah! Ayo cepet kita ke sungai!
Bawang putih : untuk apa ?
Bawang merah : udah ayo antar aku !!
Bawang putih dan bawang merah pun pergi ke sungai lalu ayah bawang meminum teh itu dan mati di tempat.
Ibu bawang : RASAIN KAU !! sekarang semuanya menjadi miliku ! haha.
Bawang putih : AYAAAAAAAAAAAH !!! ayah bangun – bangun !!
Peri : lihat saja. Kelak akan ada bencana yang menghampiri bawang merah dan ibunya. Karna semua yang mereka perbuat akan mendapat balasan yang setimpal. *triiiing.
Setelah ayah bawang putih meninggal, bawang putih selalu di jadikan pembantu di rumahnya sendiri.
Ibu bawang : heh heh ! tuh masih ada yang kotor ! yang bener doong !!!!
Bawang merah : kalo nyapuu itu harus sampai bersih. (sambil terus menjatuhkan tisu tisu di lantai)
Bawang putih : bawang merah, hentikan. Lantai tak akan bersih jika kau terus mengotorinya seperti ini.
Ibu bawang : berani kau !! diam ! kerjakan yang benar!!
Bawang merah : dan jangan lupa cucikan semua bajuku ! nih !
Ibu bawang dan bawang merah pun pergi jalan – jalan ke pasar sedangkan bawang putih harus membereskan pekerjaan rumah.
Cabe baik : bawang putih – bawang putih kau tak kenapa – kenapa ?
Bawang putih : aku baik – baik saja. Ada apa cabe baik?
Cabe baik : ini aku mengantarkan undangan pesta panen dari pangeran. Pangeran mengundang semua warga di desa bumbu ini. Kau jangan lupa datang ya. Kalau bisa kau jangan beritahu bawang merah dan ibu bawang ! biar mereka tau rasa.
Bawang merah : apa kau bilang ?? berikan undangan itu padaku !!
Ibu bawang : hey bocah ingusan ! berani – beraninya kau !! pergi sana !!
Cabe baik : kalian memang benar – benar jahat..
Bawang putih : sudah cabe baik ayo kita pergi, antarkan aku ke sungai.
Bawang putih dan cabe baik pun pergi ke sungai.
Ibu bawang : hanya kita berdua saja yang boleh datang ek pesta panen ini. Dan biarkan bawang outih sendirian disini !
Saat di sungai bawang putih dan cabe bertemu dengan bawang bombay, bawang bombay adalah teman baik bawang merah.
Bawang putih : apa kabar bawang bombay ?
Bawang bombay : tadinya baik. Karna ada kau jadi buruk !
Cabe baik : biasa aja deh ! bawang putih kan nanya baik – baik !
Bawang bombay : diem deh kamu ! heh bawang putih, itu baju milik ibu tirimu ya ?
Bawang putih : iya memangnya kenapa ?
Bawang bombay : pinjam dong.
Bawang putih : untuk apa ?
Bawang bombay : untuk di hanyutkan. (menghanyutkan baju milik ibu bwang )
Cabe baik : hey kau !! apa salah bawang putih !!
Bawang putih : kenapa kau melakukannya ? cabe baik bantu aku mengejar baju hanyut itu.
Bawang bombay : maaf ya bawang putih yang malang. Ini perintah dari bawang merah.
Bawang putih dan cabe baik pun terus mengejar baju yang hanyut itu tapi sayangnya baju itu sudah menghilang enath hanyut kemana.
Cabe baik : kau pasti akan kena marah oleh ibu tiri mu.
Bawang putih : bagaimana ini, aduuh ibu akan sangat marah besar padaku.
Cabe baik : sudahlah lebih baik kita pulang dulu.
Bawang putih pun pulang ke rumah dan menceritakan kepada ibunya tentang baju yang hanyut itu.
Ibu bawang : DASAR ANAK CEROBOH !!
Bawang putih : maafkan saya bu !
Bawang merah : maaf maaf ! cari baju itu sampai ketemu !!
Ibu bawang : heh ! jangan pulang sampai BAJU ITU DITEMUKAN !!
Dengan sedih bawang putih terus mencari baju itu sampai larut malam.
Bawang putih : bagaimana ini, sudah larut malah tapi baju itu belum di temukan.
Peri : tenanglah nak~ aku akan membantumu~
Bawang putih : suara siapa itu ? siapa kau?
Peri : bawang putih. Aku adalah peri, aku akan membantumu untuk menemukan baju ibu tirimu.
Bawang putih : kau peri ? peri ? perii.. tolong bantu aku.
Peri : pergilah ke sebuah istana. Disanalah kau akan menemukan baju itu.
Bawang putih : istana pangeran yang akan mengadakan pesta panen itu ?
Peri : iya.
Bawang putih : terima kasih peri.
Bawang putih pun segera pergi ke istana. Di lain tempat ibu bawang dan bawang merah sedang bersiap – siap untuk pergi ke pesta panen.
Ibu bawang : pasti anak itu sedang pusing mencari baju itu. Haha
Bawang merah : iya, emangnya enak di bohongin.
Bawang merah dan ibunya pun pergi ke pesta panen yang diadakan oleh pangeran.
Bawang putih : peri~ disinikah ? tapi bagaimana bisa ? aku dekil, pasti tidak di boleh kan untuk masuk.
Peri : cobalah masuk.
Pengawal : heh ! mana undangannya ? jika kau punya maka kau boleh masuk
Bawang putih : undangan apa ? aku tak punya undangan yang kalian maksud !
Pengawal : dasar gembel ! pergi kau !!
Bawang putih : peri~ bagaimana ini ? aku harus menemukan baju itu dimana ?
Peri : kemarilah~ pegang tanganku. Aku akan membuat pengawal – pengawal itu mengijinkan mu masuk.
1..2..3..4..5..
Bawang putih : bolehkah aku masuk?
Pengawal : tentu saja, silahkan.
Bawang putih pun masuk ke istana.
Peri : pergilah ke belakang istana tempat dimana air sungai mengalir, disana akan ada baju orangtuamu.
Bawang putih pun pergi ke belakang istana.
Bawang merah : halo pangeran. Apa kabar ?
Pangeran : baik~ terimakasih atas kedatangan kalian.
Ibu bawang daun : wah wah. Kau sangat tampan malam ini. Begitu pulang dengan putriku yang cantik.
Pangeran : terimakasih. Kudengar kau mempunyai sudara bernama bawang putih. Dimana dia ?
Bawang merah : apa ??? bawang putih ?? dia bukan saudaraku lagi !!
Pangeran : benarkah? Apa kau tak membohongiku??
Bawang merah : sungguh ! aku tak membohongimu~ tanya saja pada bawang bombay.
Pangeran : bawang bombay, benar dia tak mempunyai saudara bernama bawang putih ?
Bawang bombay : benar. Bawang putih hanyalah pesuruh.
Di belakang istana, akhirnya bawang putih bisa mendapatkan baju yang hanyut itu.
Bawang putih : terimakasih peri. Kau sangat baik.
Peri : ini sudah menjadi tugasku. Ini aku punya beberapa perhiasan untukmu. Pakailah. Jika ada oranglain yang memakainya, maka orang itu akan mendapatkan bahaya.
Bawang putih : terimakasih peri.
Bawang putihpun berjlan menuju gerbang istana untuk pulang. Pangeran melihat bawang putih yang berjalan terburu – buru menuju gerbang.
Pangeran : kau !! kau !! kau bawang putih ??
Bawang putih : pangeran?
Pangeran : tunggu! Apa yang sedang kau lakukan ?
Bawang putih : maaf pangeran. Tadi aku mengambil baju ibu tiriku yang hanyut di aliran sungai belakang istana ini.
Ibu bawang : bawang putih? Kenapa kau ada di sini ? seharusnya kau membersihkan rumah!
Bawang merah : dasar kau ! malah keluyuran !
Bawang putih : maafkan aku. Aku akan segera pulang bu.
Pangeran : oh jadi benar bwang putih adalah saudara kalian. Kenapa kalian memperlakukannya seperti itu?
Bawang bombay : tidak pangeran! Sungguh dia adalah pesuruh di rumah bawang merah.
Bawang merah : yang dikatakan bawang bombay benar! Lihatlah pengaran! Bawang outih mencuri kota perhiasanku, berikan !!
Bawang putih : jangan bawang merah , jangan !
Ibu bawang : dasar kau ! anak tak punya malu !!
Bawang merah : lihat pangeran, perhiasan ini lebih cocok dipakai olehku dan ibu ku.
Ibu bawang : nih karna aku baik hati aku berikan satu perhiasan untukmu bawang bombay !
Bawang bombay : oh~ terimakasih.
Bawang merah, ibu bawang, dan bawang bombay pun memakai perhiasan itu.
Bawang merah : ah tidak ! kenapa kulitku gatal gatal begini perih pula !! ada apa ini.
Ibu bawang : kulitku gatal sekali !!
Bawang bombay : aah~ kulitku..
Pangeran : kalian pasti selalu jahat pada bawang putih. Dan itu ganjaran untuk kalian. Sekarang cepat minta maaf pada bawang putih !!
Peri : apa yang kalian lakukan pada bawang putih selama ini sungguh sangat jahat. Dan sekarang kalian telah mendapatkan balasan yang setimpal. Cepat minta maaf pada bawang putih, jika tidak keadaan kalian akan terus seperti ini.
Pangeran : sungguh aku tak menyangka, kalian akan sejahat itu pada bawang putih.
Bawang merah : bawang putih ! aku mohon maafkan aku. Maaf karna sikapku selalu jahat padamu. Sungguh aku minta maaf.
Ibu bawang : maafkan ibu nak, ibu sudah berprilaku kasar padamu. Maafkan ibu.
Bawang bombay ; maafkan aku, aku sudah menjadi teman yang sangat jahat padamu.
Bawang putih : sudahlah. Aku sudah memaafkan kalian. Aku yakin kalian bisa berubah.
Ibu bawang dan bwang merah : terimakasih bawang putih. Kau memang sangat baik.
Pangeran : sekarang, maukah kalian menjadi sahabatku? Ibu bawang , bwang merah, dan bwang putih.

Tinggalah di istanaku ini. Aku ingin kalian menjadi bagian dari keluargaku.
Akhirnya ibu bawang dan bwang putih pun bertaubat dan pangeran mengajak bawang putih dan keluarganya untuk tinggal di istananya yang megah. Kini bawang putih hidup rukun dengan bawang merah dan hidup bahagia.